TUGAS 3 MEDIA PR
Nama : Atin Supriyanti
NPM : 210110110055
Kelas : HUMAS A
Fikom Unpad 2011
CYBER BRANDING
AKSAKUN
Aksara-aksara kuno
merupakan karya anak bangsa masa lalu. Sejarah visual yang memiliki makna dan
nilai ini hampir tidak dipedulikan lagi oleh anak cucunya. Naskah-naskah kuno
yang seharusnya menjadi gerbang menuju masa lalu, tampak semakin jauh dengan
masyarakat modern. Kendati kurang diperhatikan oleh banyak orang, sesungguhnya
masih ada komunitas yang bergerak melestarikan aksara kuno. Di Bandung, Jawa Barat,
terdapat sebuah komunitas Aksara Sunda Kuno (Aksakun) yang sejak tahun 2009
rutin telah menggelar kelas belajar gratis aksara Sunda Kuno.
Selain membuka kelas
belajar aksara Sunda Kuno, sebelumnya Aksakun juga telah aktif mengampanyekan
pesan pelestarian dan pendokumentasian aksara-aksara kuno. Pesan-pesan tersebut
mereka sampaikan dari jalan ke jalan. Saat ini jangan bingung kalau melihat tulisan-tulisan kuno.
Sebab sebentar lagi akan ada sebuah museum digital yang memperkenalkan
naskah-naskah kuno lengkap dengan cara mempelajarinya. Bahkan museum ini juga
akan dilengkapi dengan game.
Kini tibalah waktunya untuk melihat penjelajahan para
pecinta aksara nusantara.
“Geng” Aksakun dengan bangga mempersembahkan acara Launching
Museum Digital Aksara Nusantara di Bale Rumawat, Kampus Unpad Jalan Dipati Ukur
No. 35 Bandung (Depan Gedung 4, Sebelah Perpustakaan Hukum, 2 Gedung dari Graha
Sanusi), Jumat, 27 September 2013, pukul 18.30 Wib.
Kenapa museum digital aksara nusantara ini dibuat?
Museum ini didirikan untuk memberikan informasi tentang
keberadaan dan penggunaan aksara Nusantara. Sinta Ridwan, mahasiswi S3 Filologi
Unpad, salah satu penggagas Museum Digital Aksara Nusantra mengatakan minat
membaca naskah-naskah kuno di kalangan generasi muda masih sedikit. Untuk
itulah ia bersama “geng” Aksakun membuat museum digital, Dengan
itu generasi muda yang mempelajari naskah kuno akan mengetahui bagaimana
pandangan hidup orang-orang di masa lalu itu. Di dalam naskah itu juga terdapat
cara hidup sehat, ajaran-ajaran tentang menghargai alam, termasuk sastra.
selain memberikan informasi mengenai aksara, Museum Digital Aksara Nusantara memiliki konten lainnya, yaitu Bibliografi sebagai sumber rujukan, Blog, Galeri kegiatan Aksakun, Game Interaktif mengenai aksara Sunda, serta konten Kontribusi bagi masyarakat yang ingin membuat tulisan maupun karya lainnya berkaitan dengan aksara Nusantara. Selain mempopulerkan aksara kuno yang pernah hidup di Nusantara, website yang bersifat interaktif ini juga mengajak masyarakat untuk turut serta belajar lewat permainan menarik lengkap dengan tulisan essai, referensi, dan artikel mengenai penelitian-penelitian yang sudah dilakukan para ahli filologi dan arkeologi.
Museum Digital Aksara Nusantara yang masih terus dikembangkan ini dibuat oleh anak muda di kota Bandung, Aksakun. Di Bandung, kelompok belajar Aksakun yang terdiri dari mahasiswa, siswa, musisi dan pemerhati benda sejarah dikenal sebagai komunitas yang memfokuskan mempelajari naskah-naskah kuno yang tersebar di seluruh Nusantara. Agar naskah-naskah kuno itu dapat diakses orang banyak mereka menyalin kembali naskah-naskah kuno tersebut ke bentuk digital. Kesungguhan mereka ini dimulai sejak tahun 2009 lalu.
Akan tetapi, Museum Digital Aksara
Nusantara bukan berarti dibuat untuk menjauhkan masyarakat dari museum-museum
aksara yang ada di berbagai daerah di Indonesia. “Museum Digital Aksara
Nusantara ini sebenarnya dibuat untuk pemetaan sekaligus mengoneksikan
museum-museum aksara yang terdapat di Indonesia.
Selain itu, museum ini membantu untuk menumbuhkan rasa
kecinta negaraan masyarakat terhadap bangsa dan nenek moyang, mengingat
sekarang ini yang sepertinya cinta tanah air
masyarakat kita semakin memudar
setelah adanya modernisasi dan westernisasi.
Contohnya bisa kita lihat pada kasus saat Malaysia meng
klaim salah satu budaya Indonesia dengan mengatas namakan bahwa kebudayaan
tersebut milik negara Malaysia, setelah ada yang mencuri dan mematenkan barulah
kita sadar dan sangat menyayangkan atas kelalaian kita , yang pada halnya
kebudayaan itu tak ternilai harganya.